Gosip.co.id, 22 Mei 2026 – Bed Rotting, Self-Care, atau Depresi? Fenomena Rebahan yang Banyak Dialami Gen Z menjadi sorotan utama para pengamat kesehatan mental. Aktivitas rebahan berjam‑jam sambil scrolling, menonton serial, atau sekadar tidak melakukan apa‑apa kini dipertanyakan: apakah ini bentuk self‑care yang produktif, atau justru sinyal kelelahan mental yang lebih dalam?
Latar Belakang dan Definisi
Istilah “bed rotting” muncul pertama kali di platform TikTok dan Instagram, kemudian menyebar luas di kalangan Gen Z. Secara harfiah, bed rotting menggambarkan seseorang yang menghabiskan waktu lama di tempat tidur, seolah‑olah “membusuk” dalam kebiasaan tidak bergerak. Para ahli psikologi menekankan bahwa tidak semua rebahan bersifat negatif; kadang ia berfungsi sebagai mekanisme coping terhadap stres emosional.
Bed Rotting sebagai Respons Kelelahan Mental
Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology (2020) menunjukkan bahwa kelelahan mental dapat memicu individu mencari aktivitas minim energi. Bed rotting menjadi tempat aman untuk melarikan diri sejenak dari tekanan sosial, akademik, atau pekerjaan. Pada fase ini, otak menurunkan produksi hormon stres, memberi kesempatan untuk pemulihan singkat.
Baca Juga
Self‑Care atau Hindaran? Perbedaan Tipis yang Krusial
Self‑care yang sehat biasanya menghasilkan rasa segar dan motivasi setelahnya. Namun, bila rebahan berlanjut hingga menimbulkan rasa bersalah, kehilangan motivasi, atau isolasi, maka perilaku tersebut beralih menjadi bentuk avoidance coping. Journal of Health Psychology (2019) mengingatkan bahwa menghindar secara berlebihan dapat memperparah stres jangka panjang.
Burnout dan Dampak Emosional
World Health Organization (WHO) mendefinisikan burnout sebagai kelelahan emosional, penurunan motivasi, dan perasaan terlepas dari aktivitas. Tekanan emosional, overthinking, serta paparan informasi berlebih dapat memicu burnout meski tanpa beban kerja berat. Bed rotting yang berlebihan sering kali menjadi sinyal tubuh bahwa energi mental sudah habis dan membutuhkan jeda nyata.
Depresi yang Tidak Selalu Terlihat
Stigma umum menganggap depresi identik dengan tangisan terus‑menerus. Padahal, salah satu manifestasi depresi adalah kehilangan energi, kesulitan bangun dari tempat tidur, dan berkurangnya minat pada aktivitas yang dulu disukai. Journal of Affective Disorders (2021) menegaskan bahwa withdrawal behavior merupakan gejala umum depresi, termasuk kecenderungan berlarut di tempat tidur tanpa tujuan.
Keseimbangan Istirahat yang Sehat
Menurut Sleep Health Journal (2020), istirahat pasif yang berlebihan dapat menurunkan mood karena kurangnya regulasi emosi melalui aktivitas ringan. Kunci utama bukan sekadar berhenti bergerak, melainkan menemukan keseimbangan antara jeda dan gerakan perlahan, misalnya stretching ringan, meditasi, atau berjalan singkat di luar kamar.
Strategi Praktis untuk Gen Z
- Batasi waktu scrolling di tempat tidur maksimal 30 menit.
- Ganti satu sesi rebahan dengan aktivitas fisik ringan, seperti yoga atau jalan kaki.
- Gunakan alarm untuk bangun pada jam yang konsisten, walaupun hanya untuk melakukan aktivitas ringan.
- Catat perasaan setelah rebahan: apakah merasa segar atau justru kosong?
- Jika gejala terus berlanjut, pertimbangkan konsultasi profesional mental health.
Kesimpulannya, Bed Rotting, Self‑Care, atau Depresi? Fenomena Rebahan yang Banyak Dialami Gen Z menuntut pemahaman yang lebih dalam tentang batas antara istirahat yang menyehatkan dan tanda kelelahan mental. Mendengarkan kebutuhan tubuh secara jujur, sambil tetap menjaga aktivitas ringan, dapat membantu menghindari transisi dari self‑care menjadi burnout atau depresi. Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten, generasi muda dapat mengubah kebiasaan rebahan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan yang seimbang.




